Hubunganantara iman dan amal adalah antara budi dan perangai. Suatu budi yang tinggi hendaklah dilatih terus agar menjadi perangai dan kebiasaan. Islam dan iman yang sebe narnya adalah pertalian di antara iman dan amal saleh. Menurut Buya Hamka, tidak ada satu ayat pun dalam Alquran yang hanya menyebut perkara iman.
Daniman mendahului adab. Inilah yang perlu kita bekalkan kepada murid kita. Jika anak berbekal ilmu tanpa adab dan iman, tajamnya pikir mungkin mereka raih. Tetapi bahaya besar mengintai. Yang terbesar adalah nifaq. Sesungguhnya orang munafik yang sangat luas pengetahuannya jauh lebih berbahaya dibanding munafiqin yang bodoh dan kurang wawasan.
TargibIman dan Amal. Target yang paling penting adalah bagaimana kehidupan kita ini tidak telalu ketinggalan jauh dari kehidupan para sahabat RA. Jadi penting kita mempunyai target dalam melaksanakan kerja kenabian ini. Diantaranya target dari usaha Nubuwah adalah : Bagaimana Ummat dapat mengamalkan agama secara sempurna selama 24 jam.
Terakhirdiperbaharui: Jumat, 25 September 2020 pukul 5:29 pm. Tautan: Ilmu Adalah Panutan Amal adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan k itab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim , M.A. pada Kamis, 6 Shafar 1442 H / 24 September 2020 M.
AlKahfi: 66-69]. Ada beberapa pelajaran adab yang dapat diambil dari kisah dalam ayat di atas: Hendaknya seorang murid bertutur kata yang mulia dan lemah lembut kepada gurunya, hal itu tercermin dari cara nabi Musa 'alaihis salam dalam bertanya dan meminta kepada Khidir untuk mengajarinya ilmu, serta memohon agar diizinkan untuk ikut bersama
Dalamkitab "Adab al-'Alim wa al-Muta'allim", K.H Hasyim Asy'ari mengatakan, "Tauhid itu mewajibkan iman, barang siapa yang tidak beriman, maka ia belum dianggap bertauhid. Dan iman mewajibkan syariat, barang siapa yang tidak bersyariat, maka ia belum dianggap bertauhid dan beriman.
. Sejumlah santri mengikuti kajian kitab kuning di Pondok Pesantren Darul Amin, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Selasa 27/4/2021. Pada saat bulan suci Ramadhan mengaji kitab kuning merupakan salah satu tradisi pesantren untuk memperdalam ilmu agama antara lain yaitu tafsir Al Quran fikih, akidah, ibadah, tasawuf, dan muamalah. Seorang ulama dari generasi tabiit tabiin, Muhammad bin Ajlan, mengatakan, Keutamaan seorang yang berilmu dibandingkan dengan ahli ibadah ialah sebanyak 100 derajat. Setiap dua derajat jaraknya seperti antara 500 tahun yang ditempuh dengan kuda yang sangat cepat. Bagaimanapun, ternyata berilmu saja tidaklah Islam, ilmu haruslah diiringi dengan amal. Pada akhirnya, sang alim yang beramal semata-mata mengharapkan ridha Allah Ta'ala. Kewajiban Bila diibaratkan, ilmu adalah pemimpin sekaligus pembimbing bagi perbuatan. Sebuah amalan boleh jadi buruk dalam pandangan Allah SWT walaupun manusia menilainya baik-baik contoh, seorang yang beramal di tengah khalayak. Apabila ia tidak memahami ilmu ikhlas, yang dikhawatirkan ialah nilai tindakannya tidak mendapatkan pahala dari-Nya. Bahkan, mungkin saja dirinya jatuh dalam syirik kecil, yakni riya. Mengiringi ilmu dengan amal adalah sebuah keharusan. Jika ada yang melakukan ibadah tanpa didasari ilmu, itu tidak ubahnya dengan seorang yang mendirikan sebuah bangunan di tengah kegelapan malam. Tatkala siang tiba, bangunan itu justru dihancurkannya sendiri. Tebar Manfaat Manusia adalah makhluk sosial. Tidak ada seorang pun insan di muka bumi yang mampu hidup tanpa beri n te aksi dengan orang lain. Karena itu, tiap orang sesung guh nya memiliki tanggung jawab sosial di tengah masyarakat. Sebagai seorang alim, tanggung jawab itu tentunya lebih penting lagi. Katakanlah, seorang ahli sistem irigasi, apabila diam saja melihat fenomena banjir di lingkungannya, tentu akan dipandang aneh oleh masyarakat. Bahkan, pada batas-batas tertentu bisa jadi ia menjadi sasaran cibiran. Nabi SAW bersabda, Sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat bagi sesamanya. Karena itu, menyertai ilmu dengan amal juga berarti menebar maslahat kepada umat dan kemanusiaan umumnya. sumber RepublikaBACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini
Jakarta - Dalam kehidupan sosial, ilmu, iman, dan amal merupakan tiga hal yang tidak bisa dipisahkan seorang muslim. Ilmu mesti diikuti dengan iman dan amal, tidak bisa hanya fokus pada salah satunya saja. Ini sekaligus membuktikan kesempurnaan dalam Universitas Darussalam, Gontor, Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi, mengatakan, setiap orang melakukan suatu perbuatan berdasarkan berdasarkan apa yang dipikirkan dan yang diketahui. Jadi, pengetahuan dan keyakinan memiliki dampak terhadap itu, ada dua alasan jika seseorang melakukan dosa. Pertama, orang tersebut tidak tahu. Kedua, orang itu tidak yakin dosa memiliki dampak terhadap dirinya. Islam tidak mengenal dua hal itu, karena syariah telah mengatur segala sesuatu."Ilmu dalam Islam mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan perbuatan anda. Maka dari itu syariah, akidah, akhlak; ilmu, iman, amal tiga hal tidak bisa dipisahkan," kata Hamid, dikutip akun resmi Unida Gontor, Sabtu 5/2/2022.Guru besar Ilmu Filsafat Islam itu lalu menjelaskan, Islam merupakan agama wahyu yang datang membawa sekian banyak ajaran syamil-kamil. Di antaranya cara hidup secara Islam dan memahami diri sendiri secara banyak ayat dalam Al-Qur'an yang menjelaskan tentang cara memahami diri secara Islam. Jiwa manusia tidak selalu berorientasi pada kebaikan saja, tapi berpotensi melenceng pada keburukan. Qur'an menyebut fujur dan tidak pernah luput dari bisikan setan dan bisikan kebaikan dari malaikat. Maka itu, seseorang sangat penting memahami tingkat jiwa dalam perspektif Islam seperti nafsu mutmainnah, nafsu ammarah bissu', hingga nafsu harus memahami berada pada tingkatan jiwa yang mana dan kapan jiwa bisa berada pada tingkatan nafsu mutmainnah. Hal itu harus dipahami terlebih dahulu agar mudah mengatur dan sini pula doa meminta perlindungan dari godaan setan menjadi sangat penting. Sebab, seseorang tidak tahun bahkan tidak menyadari sedang melakukan keburukan. Di sisi lain, manusia tidak bisa memiliki daya upaya kecuali atas pertolongan Allah."Wajib bagi kita selalu meminta perlindungan pada-Nya supaya dijauhkan dari keburukan-keburukan. Ketika anda dapat kesempatan sesuatu berbuat jahat terus anda berbuat jahat, berarti anda tidak berlindung kepada Allah," kata yang memiliki ketakwaan tinggi, pasti tidak akan terjerumus berbuat jahat jika mendapat kesempatan. Meski godaan itu berasal dari wanita paling sejagat raya. Dari sini bisa diketahui tiga konsep di atas ilmu, iman, dan amal tidak bisa dipisahkan. Harus selalu berjalan beriringan, agar bisa mendapatkan kebahagiaan dunia mempunyai kriteria bahagia sendiri. Kebahagiaan dalam Islam ialah melakukan sesuatu sesuai fitrah. Fitrah manusia itu beriman dan beramal shaleh. Senang menolong dan membantu orang lain, termasuk kebahagiaan sejati."Artinya, sekiranya ada yang bilang bahagia karena maksiat, itu sebenarnya adalah fiksi. Tipuan terhadap sifat fitrah, kebahagiaan semu, sekejap, berujung penyesalan. Itu bukan kebahagiaan," ucap Fahmi.jqf
Adab fait référence à l’étiquette islamique. C’est la manière de conduite que le Prophète Muhammad PSL a utilisé en interagissant avec le monde autour de lui. C’est la façon dont il traitait ses compagnons, ses femmes, ses ennemis, sa Ummah et tous les êtres vivants. Adab, par conséquent, est un ilm» ou un savoir accordée à notre Prophète PSL par Allah afin qu’il puisse enseigner la même chose à toute l’humanité. Hz Abu Hurairah RA rapporté par le Prophète Muhammad PSL [1] Le parfait croyant en ce qui concerne la foi est celui qui est le meilleur d’entre eux de manières. Il est impossible de pratiquer l’islam si nous négligeons l’importance des bonnes manières. Par exemple, nous ne pouvons pas être de vrais musulmans si nous ne tenons pas compte de la propreté qui serait la moitié de la foi. Imaginez perdre la moitié de votre foi simplement parce que quelqu’on est trop paresseux pour prendre un bain! En appliquant les bonnes manières et Adab, nous renforçons réellement notre foi. De plus, ce n’est pas seulement l’amour d’Allah que vous gagnez, mais aussi l’amour et le respect de ceux qui vous entourent. Même les mécréants de La Mecque qui voulaient tuer Muhammad PSL ont reconnu sa véracité. Personne ne pouvait nier son noble caractère et ses bonnes manières. Qu’est-ce que Adab? Adab consiste à répandre des mots de paix et à réparer les relations brisées entre les gens. Cela implique de prier pour vos frères et sœurs en Islam, de vous conseiller et de vous appeler mutuellement à faire le bien et à arrêter ce qui est mal. Adab ou bonnes manières consistent à respecter vos parents, vos aînés et vos voisins et à montrer de l’amour et de la compassion aux jeunes. Cela comprend également la visite des malades et l’abstention de maux tels que les morsures et les calomnies. Les bonnes manières et le sens de la morale peuvent nous empêcher de tomber dans le péché. Il est rapporté de Hz Abu Hurairah RA que le Prophète Muhammad PSL a dit [2] La modestie al-Haya’a est une branche de la foi. La modestie fait ici référence au sens de la conscience qui empêche de se livrer à de mauvaises actions. Outre la modestie, nous devons également développer la tolérance en nous-mêmes. Il est relativement facile de construire la patience et le meilleur moyen est de suivre la belle Sunna de notre bien-aimé Prophète Muhammad PSL. Même le jour de la libération de La Mecque, il a fait preuve de miséricorde envers les mécréants qui avaient tenté de le tuer plusieurs fois. De nombreux Mecquois ont été impressionnés par cet acte de miséricorde et ont choisi d’embrasser l’islam. Ainsi, chaque fois que nous sentons que nous avons été lésés, il vaut mieux être patients et contrôler notre colère. Nous devons toujours nous rappeler qu’Allah est Miséricordieux envers ceux qui font miséricorde aux autres. Appraisal Enfin, voici quelques conseils sur la meilleure façon de pratiquer Adab Nous devons apprendre à transmettre les bonnes manières et le meilleur d’Adab à notre famille et à nos amis. Nous devons traiter nos parents avec la plus grande gentillesse et humilité. Nous devons essayer d’enseigner aux plus jeunes les bonnes manières. La meilleure façon de l’enseigner est d’abord de la pratiquer nous-mêmes. C’est une bonne idée de suivre les bases partager des sourires avec ceux que nous rencontrons, partager notre joie et notre bonheur avec les autres et pardonner à ceux qui commettent des erreurs. En tant que croyants, nous devons continuer d’améliorer nos manières. Ce n’est qu’alors que nous pourrons compléter notre foi et espérer gagner la Miséricorde de notre Créateur afin que nous puissions entrer au paradis, où nous appartenons vraiment. Références 1. Sunan Abi Dawud Book 41, Hadith 4665 2. Sunan an-Nasa’i Vol 06, Livre 47, Hadith 5009
– Ilmu dan adab adalah suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dalam Islam. Keduanya berkaitan erat dan saling berhubungan satu sama lain. Imam Malik rahimahullah pernah berkata, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.” Ulama salaf terdahulu sangat memperhatikan adab dan akhlak. Adab tidak bisa dipisahkan dengan ilmu, karena beradab itu sendiri membutuhkan ilmu. Lantas Apa Hubungan di Antara Adab dan Ilmu? Hubungan di Antara Ilmu dan AdabPenisbatan Terhadap Adab dan Penisbatan Terhadap IlmuAdab Kepada Allah dan Sesama Makhluk dengan IlmuPenutup Sebelum kita mempelajari hubungan di antara ilmu dan adab, Kita perlu mengetahui definisi dari keduanya terlebih dahulu. Ilmu secara bahasa اَلْعِلْمُ al-ilmu adalah lawan dari اَلْجَهْلُ al-jahl atau kebodohan, yaitu mengetahui sesuatu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, dengan pengetahuan yang pasti. Ilmu sendiri seharusnya bermakna ilmu syar’i, yaitu ilmu yang diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya berupa keterangan dan petunjuk. Adapun ilmu yang berkaitan dengan dunia seperti sains dan teknologi seharusnya tidak disebut dengan ilmu, tetapi ilmu dunia. Ilmu hanya dinisbatkan kepada ilmu syar’i saja. Sedangkan untuk adab adalah salah satu dari bagian ilmu. Para ulama mengatakan adab adalah menghiasi diri dengan sikap-sikap yang indah dan menghindari menjauhi dari sikap-sikap lawannya. Adab adalah melakukan perkara-perkara yang baik dan menjauhi perkara-perkara yang buruk. Hal ini berlaku pada perkataan maupun perbuatan. Adab adalah akhlak. Seseorang yang sudah hijrah, mengaji, belajar agama dan sudah terbiasa hadir di majelis ilmu seharusnya memiliki adab dan akhlak yang baik. Apabila kita sudah ngaji namun ternyata akhlak kita masih belum baik, maka bisa jadi kita bukan termasuk orang-orang yang berilmu. Seseorang yang sudah berilmu tentu harus memperhatikan adabnya. Jangan sampai dengan ilmunya, ia malah tidak beradab. “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu” tentu ditujukan kepada orang-orang yang saat itu ilmunya sudah tinggi namun kurang beradab. Dikatakan bahwa dahulu ada banyak orang berilmu namun tidak mengamalkan dengan menunjukan akhlak yang baik. Dengan adab kita bisa lebih mudah memahami ilmu dengan baik dan cepat. Penisbatan Terhadap Adab dan Penisbatan Terhadap Ilmu Adapun dalam diri seseorang, seharusnya penisbatannya terhadap adab lebih besar dari pada penisbatannya kepada ilmu. Tidak perlu jauh-jauh, coba lihat sendiri kepada diri kita masing-masing. Ada diantara kita yang sudah berjenggot lebat, mengenakan celana cingkrang, rajin ke masjid dan lainnya. Namun, apa yang masyarakat kenal tentang kita? Bisa jadi mereka hanya kenal kita sebagai orang yang berjenggot saja. Mereka tidak mengenal kita sebagai orang yang baik. Sebagai seorang muslim, kita seharusnya berakhlak baik. Kita harus rajin membantu tetangga-tetangga kita, mengucapkan tutur kata yang baik, menghadiri undangan dan lain sebagainya. Sehingga kita akan mulai terkenal karena adab kita yang baik. Tidak hanya terkenal sebagai seorang yang berjenggot saja, namun kita akan dikenal sebagai seseorang yang baik di kehidupan bermasyarakat. Ada mungkin di antara kita, seorang akhwat yang sudah mengenakan jilbab syar’i ditambah dengan niqab cadar. Tapi apakah itu menjamin akhwat tersebut memiliki adab yang baik? Tentu saja tidak. Mungkin bisa jadi ia terkenal sebagai seorang perempuan muslimah yang bercadar, tapi hanya dikenal sebatas itu. Ada yang lebih parah apabila ia dikenal sebagai seorang muslimah yang mengenakan cadar, tetapi masih saja suka ghibah. Naudzubillah min dzalik. Adab lebih dibutuhkan oleh seseorang yang berilmu walaupun itu sedikit. Perkataan ini tentunya dimaksudkan untuk orang-orang yang sudah berilmu namun kurang beradab. Adapun untuk orang-orang yang sudah berilmu dan berakhlak baik, sebaiknya selalu mempelajari keduanya. Mempelajari adab dan ilmu haruslah berdampingan. Kita tidak perlu menunda belajar ilmu dengan mempelajari adab terlebih dahulu. Apabila kita sudah mempelajari ilmu, maka tinggal dilanjutkan dengan mempelajari adab. Keduanya jalan berdampingan sebagaimana dua sejoli yang tak boleh terpisahkan. Semoga kita menjadi pribadi-pribadi yang kelak dikenal sebagai seorang mukmin yang sering berbuat baik. Baca Juga Kupersembahkan Ibadah Hanya Kepada Allah Adab Kepada Allah dan Sesama Makhluk dengan Ilmu Sebagai seorang muslim, kita harus bisa menjadi seseorang yang beradab kepada Allah dan beradab kepada sesama makhluk. Sesungguhnya adab inilah yang akan mengantarkan kita menjadi orang-orang yang berakhlak mulia. Adab kepada Allah tentu kita harus taat dalam mengikuti perintah dan menjauhi larangan-Nya. Seorang muslim yang beradab seharusnya melakukan sholat, zakat dan ibadah lainnya sesuai dengan syariat. Lalu, adab kepada sesama makhluk bisa kita tunjukan dengan perkataan dan perbuatan baik. Meskipun hanya sekedar menyingkirkan gangguan dari jalan. Ya. Begitulah tentang adab. Tentunya agar kita bisa mempelajari adab dan akhlak yang baik, kita harus rajin dalam menuntut ilmu. Dengan ilmu kita bisa tahu bahwa seorang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Adapun meninggalkan debat juga termasuk adab, baik kepada Allah maupun sesama makhluk. Bisa jadi kita yang baru hijrah, kita terlalu menggebu-gebu dalam menyampaikan kebenaran. Kita menjadi terlalu mudah dalam menyalahkan. Apabila sudah sampai terjadi perdebatan, maka sebaiknya kita tinggalkan. Begitulah tentang adab dan akhlak yang mulia. Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdoa supaya dianugerahi akhlak yang mulia, “Ya Allah, tunjukilah padaku akhlak yang baik, tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan palingkanlah kejelekan akhlak dariku, tidak ada yang memalinggkannya kecuali Engkau.” [HR. Muslim no. 771, dari Ali bin Abi Tholib] Penutup Ilmu tanpa adab hanya akan menjadikan seorang pemilik ilmu terseret oleh hawa nafsunya. Tanpa adab, seseorang bisa menjadi sombong dan ujub dengan ilmu yang dimiliki. Ilmu tidak akan memberikan manfaat jika tidak dibarengi dengan adab. Begitu pula dengan adab yang tidak akan memberikan manfaat jika tidak dibarengi dengan ilmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Serulah manusia kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.’ [QS. An-Nahl 125] Pada firman ayat diatas, Allah menjelaskan kepada kita untuk menyampaikan ilmu dengan adab dan akhlak yang baik. Wallahu A’lam Bish-Shawab. Demikian artikel ini ditulis. Artikel ini terinspirasi dari ceramah beliau Ustadz Yulian Purnama, yang membahas kitab “Min Washaya Al Ulama li-Thalabatil Ilmi” karya Syaikh Abdul Aziz Bin Muhammad As Sadhan. Terima kasih telah membaca sampai pada baris ini. Saya mohon maaf apabila masih ada kesalahan dalam penulisan dan lainnya. Sesungguhnya saya adalah seseorang yang masih fakir akan ilmu. Saya dan teman-teman yang mengelola situs ini bersedia untuk menerima nasihat dari Anda. 🙂 Jangan lupa bagikan kepada teman-teman kita! 🙂 Semoga bermanfaat. Gambar
80% found this document useful 15 votes30K views28 pagesDescription“Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman”. HR. Ath-Thabrani Hubungan antara ilmu dan amal ialah amal akan mempunyai nilai jika dilandasi dengan ilmu. Begitu juga dengan ilmu, ia akan mempunyai nilai atau makna jika diiringi dengan amal. Keduanya tidak dapat dipisahkan dalam perilaku © All Rights ReservedAvailable FormatsPPTX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?80% found this document useful 15 votes30K views28 pagesHubungan Antara Iman, Ilmu, Dan AmalDescription“Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman”. HR. Ath-Thabrani Hubungan antara ilmu dan amal ialah amal akan mempunyai nilai jika d…Full description
Foto MAN Kota Batu Islam adalah agama yang berkaitan erat dengan segala aspek kehidupan di dunia. Dengan kata lain, Islam tidak bisa dipisahkan antara kepentingan dunia dan akhir. Hal ini menjadi anti tesis kalangan sekuler yang berupaya memisahkan antara agama dan aspek-aspek dunia, seperti ilmu pengetahuan dan Nurhasanah Bakhtiar dalam buku Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum 2018 201-202 menjelaskan, dalam pandangan Islam, antara agama, ilmu pengetahuan, teknologi dan seni terdapat hubungan yang harmonis dan dinamis yang terintegrasi ke dalam suatu sistem yang disebut dinul Islam. Di dalamnya terkandung tiga unsur pokok, yaitu akidah, syari’ah dan akhlak, dengan kata lain iman, ilmu dan amal adalah agama wahyu yang mengatur sistem kehidupan yang paripurna. Keparipurnaannya terletak pada tiga aspek; yakni aspek aqidah, aspek ibadah dan aspek akhlak. Meskipun diakui aspek pertama sangat menentukan, tanpa integritas kedua aspek berikutnya dalam perilaku kehidupan Muslim, maka makna realitas kesempurnaan Islam menjadi kurang utuh, bahkan diduga keras akan mengakibatkan degradasi keimanan pada diri Muslim, sebab eksistensi perilaku lahiriah seseorang adalah perlambang ketiga aspek tersebut dalam pribadi Muslim sekaligus merealisasikan tujuan Islam sebagai agama pembawa kedamaian, ketenteraman dan keselamatan. Sebaliknya, pengabaian salah satu aspek akan mengakibatkan kerusakan dan iman berfungsi untuk memberikan arah bagi seorang ilmuwan untuk mengamalkan ilmunya. Dengan didasari oleh keimanan yang kuat, pengembangan ilmu dan teknologi akan selalu dapat dikontrol berada pada jalur yang benar. Sebaliknya, tanpa dasar keimanan ilmu dan teknologi dapat disalahgunakan sehingga mengakibatkan kehancuran orang lain dan khusus, dalam konteks ini, ilmu yang dimiliki seseorang sangat berperan terhadap kualitas dirinya. Sebagiamana dikutip Dr. Nurhasanah Bakhtiar, Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin pada bagian awalnya banyak menjelaskan tentang keutamaan ilmu dan pembelajaran. Ia menggambarkan kedudukan tinggi bagi para ahli ilmu dan para ulama dengan menyetir ayat-ayat al-Qur’an dan sabda Rasulullah SAW. Serta perkataan para mengatakan bahwa makhluk yang paling mulia di muka bumi ini adalah manusia. Sedangkan bagian tubuh manusia yang paling mulia adalah hatinya. Tugas guru adalah menyempurnakan, mengagungkan, menyucikan dan menuntut anak didik agar selalu dekat kepada Allah karena itu tugas mengajar bukan hanya sekadar ibadah kepada Allah, tetapi juga dalam rangka melaksanakan fungsi manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi. Orang alim adalah bendaharawan yang mengurus khazanah Allah SWT. Bahkan tidurnya orang alim lebih baik dari ibadahnya orang yang bodoh. MZN
iman adab ilmu dan amal